My new Life

•Agustus 14, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

In my 38 , I’m thinking to do something different in my life. I’ve done many kind of business before. From Craft to restaurant, from travel agent to cookies shop. I understand how to start a business from zero, i understand how difficult to convince people for a business. I have enjoy the golden times of Bali’s business. I enjoy how easy to make money, and i also understand how difficult to make a million rupiah (usd 100) during economic crisis.

I would like to change my life. I want to be meaningful, to understand what is my purpose of life. It sound like a middle age crisis (and beleive me, i’m not in middle age crisis !:) ), but i have different passion at the moment.

I’m used to be a Profit oriented pig, try to get more and more money, expand my business rapidly. I open 1 business every year in 7 years (in a row!), and lost them some.

I start my new life by join an organization, BEDO. Bali Export Development Organization. I got 3 years experience as chairman there, and make my network grow. I don’t get paid as chairman, and i can say it take 70% of my time. But i don’t regret it.

My last 4 years, i involved in disabilities issue. My first connection in this issue when i recruit 2 blind men to produce my clove craft. Then i was introduced by Christian Fritz (founder of BEDO) to VSO.

My connection to VSO make me involve in their projects. VSO (Volounter Service Overseas) force me to see the real problems of people with disability. It make me directly involve into their project. Setting up a program, and make sure our program run as we plan it. I work a lot with people with disabilities. Their life is a slap on my face. I used to spend few hundred thousand rupiah for dinner with my friends, and many disable have to work under minimum wages because they don’t have skills.

Last month , i decide to apply as VSO volounter. It will be a 2 years placement. If i pass my test, i will be replace in development country as Asia or Africa. Most of my friend thought i’m crazy and thought i have serious depression. 🙂 An email about life come from a friend, its a nice email, he try to motivate my life. He might think i give up my life. But i know what i want. Its not depression, it’s a choice. 🙂

Some people choose to be rich, some people choose to be happy. You can be happy and rich, that’s what i want, of course. :). But i don’t want to give up my life only for chasing money. I want to start to be happy as soon as i can. And i want to make other people happy too. I want to have ‘meaning’ in my life.

An Australian priest told me at church’s retreat, that God have BIG plan for few people at that mass. Some people is chosen to have great meaning for others. And i want to be that one.

I’m 38 yo, I’m not married, and probably i will still single and happy. As a single, i don’t need much to make my live secure.

I have made my decision. I will work for others. If i fail to be VSO volunteer in Asia/Africa, i might go to Flores or Papua, and figure out what can i do for them.

I’m 38. And my new journey start from now.

disable, vso

I’m back to Business !

•Juni 19, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

usb pencilIt’s been a long time that i dont taking care of my business. I’m busy with personal life, my warung business, my association business, my social business, etc. I give all business operational to my office staffs.

Awalnya aku pikir, mereka bisa laksanakan ini dengan baik, tapi kenyataan nya, bisnis itu seperti bayi. Kita harus mengurusnya sendiri. Bayi itu mungkin aja bisa berkembang dengan baby sitter, tapi apakah bayi itu akan menyanyagi kita nantinya? Ada kemungkinan baby sitter akan ‘ngelunjak’ atau keluar dari rumah kita.

Ini yang aku alami saat ini. Setelah tiga tahun ‘bayi’ ini tidak dirawat sendiri, bayi mulai sakit sakitan. Setelah sakit, para baby sitter lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Jujur, aku tidak menyalahkan mereka, aku menyalahkan diri sendiri yang terlalu asyik dengan hal hal lain, terlalu larut dalam kedukaan yang berkepanjangan.

Kini aku mulai lagi merasakan gairah bekerja di dunia desain dan business ini.. Ada orgasme yang tidak bisa didapatkan ditempat lain.

Tahun lalu, aku buat desain USB Pencil, dan dipamerkan pertama kali di Sydney Design Week. Sambutannya cukup baik, dan diliput Sydney Herald Tribune. Di tanah air, desain ini dipakai oleh bbrp perusahaan besar, spt J Boutique Hotel, Hard Rock Radio. Fraunhover, dsb untuk Hadiah atau Award bagi koleka mereka. Ada kebanggaan tentunya. Media lokal juga banyak yang meliput SCTV sudah 2 x meliput, Trans7 dan Metro TV. Di Bali Majalah Clubber The Beat juga memuat produk ini.

Belajar dari kesalahan yang lalu, aku mendaftarkan Hak Desain Industri untuk produk ni. Jadi sekarang, silahkan meniru produk ini.. saya bisa jerat anda dengan denda milyaran rupiah.. hehe.

Produk ini dibuat berdasarkan pengalaman kehilangan usb flash disc berkali kali.. dan kehilangan pensil.. maka termunculan ide untuk menggabungkan keduanya.

Liputan SCTV di acara Cabe Rawit bisa dilihat di
http://berita.liputan6.com/caberawit/200905/177389/USB.Pensil.Perpaduan.Teknologi.dan.Seni

Lampu merah

•Desember 6, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini lebih dari 3 kali, aku berhenti di lampu merah pertigaan bandara – by pass. Sekali karena memang harus lewat sana, yang kedua karena kelewatan, yang ke-tiga memang karena mau ngak mau mesti muter sana.

Perhentian satu menit, menunggu lampu merah, membuat mata mau tidak mau mengamati apa yang sedang terjadi. Sebuah mobil mewah dengan ‘bule’ yang tertawa terbahak bahak disamping seorang perempuan indonesia yang cantik. lewat begitu saja.

Serombongan anak smp mengayuh sepeda menuju arah by pass, tampang lesu sehabis ujian (mungkin hari ini bukan hari yg baik buat dia). Mengayuh rutinitas, belajar, belajar, belajar. Kita semua pernah mengalami nya.

Seorang ayah dengan motor butut nya, menjemput anak gadis nya pulang sekolah. Mungkin dia tidak punya uang banyak di kantong, tapi dia tahu arti bahagia. Ayah yang berbincang dengan anak gadisnya, sambil menunggu lampu merah. Sekali sekali mereka tertawa.

Tiga orang anak menunggu sesuatu. Entah apa. Mereka duduk di belakang mobil pick up, sambil memandang beberapa anak sekolah yang terus menerus lewat di depan mereka. Seorang anak mengenggam kantong plastik berisi es teh manis. Barang yang berharga hari ini, digenggam erat erat, jangan sampai jatuh. Es Teh manis seharga Rp 1500. Pelepas dahaga hari ini.

Hari ini tidak terlihat pengemis anak anak disana. Mungkin siang ini terlalu panas untuk mereka.

Ketika aku memandang 3 anak di mobil pick up, pikiran ku berkelana. Apa yang akan terjadi dengan 3 anak ini ketika dewasa. Apakah mereka akan menjadi seperti Andre Hirata, yang menceritakan kemiskinan dengan rasa bangga (karena kini dia sudah kaya), apakah mereka akan menjadi satu dari kita, yang hidup dengan rutinitas, dan kemudian tertawa mengingat masa lalu? Atau mereka akan menjadi penghuni tetap lingkaran kemiskinan. Yang tidak pernah mengingat masa masa gelap sebagai masa yang menyenangkan.

1 menit menunggu lampu merah. sejumlah pengamatan di buat. di antara sekian banyak orang di lampu merah itu, ada aku, yang dengan mata kosong, menunggu harapan.

Datang dengan harapan, Pulang dengan duka

•Oktober 12, 2008 • 1 Komentar

Kepergian kakak tertua tercinta penuh dengan tanda tanya dan ketidak percayaan. Sehari sebelum dia pergi, kami masih makan malam bersama, ia masih mengantar aku jalan jalan dan bercerita banyak tentang lingkungan rumahnya di Singapore. Aku memang sedang berkunjung kesana, dalam rangka pameran produk desain aku di peluncuran buku “The Art & Craft of Indonesia” – Pak Joop Ave. Kakak ku juga dari 2 hari sebelumnya ingin sekali hadir dalam acara itu, dan minta aku mecarikan undangan untuk dia.

Aku datang ke Singapore dengan harapan akan mendapat penjualan atas produk desain aku, dan harapan bisa memperluas networking aku disana, tapi kenyataan bicara lain, aku pulang dengan membawa duka, membawa kabar sedih. Walaupun aku bersyukur diberi kesempatan bertemu dia untuk terakhir kalinya, setelah hampir setahun kita tidak bertemu. Aku merasakan, betapa excited nya dia ketika aku akan datang ke Singapore.

Aku merasa hidupku dekat dengan kematian. Cerita Pendek pertama yang aku buat dan diterbitkan di buletin Supermarket Hero ketika aku masih SMA, juga bercerita tentang kematian. Depresi dan ketakutan akan kematian saat SMA membuat aku menulis tentang itu. “Manusia adalah daging dan roh. Ketika Roh meninggalkan daging, manusia cuma seonggok daging yang dikerubiti belatung” Itu kalimat pertama yang aku tulis dalam cerpen tersebut.

Ramalan akan kematian di usia 35 juga membuat aku berfikir tentang kematian. Apa yang harus aku persiapkan, lagu apa yang akan mengiringi penguburan aku dan siapa saja yang akan datang di pemakaman aku.

Kematian Simon yang mendadak membuat luka panjang yang kini masih belum terobati. Cinta yang tidak berujung dan juga tidak berakhir, seperti air yang tidak tahu harus bermuara di mana.

Kepergian Mama juga membuat aku kehilangan pegangan. Mengapa duka selalu ada di sisi yang sama. Mengapa kehilangan menjadi bagian dari hidup aku terus menerus.

Sekarang kepergian Koko tertua. Jujur aku tidak terlalu dekat dengannya, namun aku merasakan usaha dia untuk kembali dekat dengan keluarga beberapa tahun terakhir ini. Koko adalah panutan dalam hidup aku.

Ketika ia menjadi guru, cita citaku juga menjadi guru. Ketika ia lulus sarjana pertanian IPB, aku juga bercita cita ingin jadi Sarjana Pertanian. Mungkin ikutan ikutan, mungkin aku memang mengidolakannya. Koko adalah tulang punggung keluarga ketika Papa sudah sakit sakitan dan tidak bisa bekerja. Ingat betul aku, ketika ia menyerahkan seluruh gajinya ke Mama untuk biaya kami adik adiknya bersekolah.

Ketika ia bekerja di Gramedia, aku selalu menunggu kedatangannya pulang dari kantor, karena ia selalu membawakan majalah Bobo, Donal Bebek, Hai, Intisari. Betapa bahagianya saat itu.

Koko tidak banyak bicara, tapi kasih nya terasa sampai kini.

Kini kematian kembali hadir dalam hidup aku. Kisah duka kembali ditulis.

“Manusia adalah Daging dan Roh. Ketika Roh meninggalkan Daging. Manusia tetap hidup, karena ia tidak melulu dari daging, tapi juga dari cinta dan kasih yang Tuhan berikan padanya dan pada kita semua.

Selamat jalan, Ko. Jasa jasa koko tidak pernah aku lupakan.

Batik bentuk baru dan Harga Desain

•Oktober 4, 2008 • 3 Komentar

Ketika Asialine memutuskan untuk melebarkan jenis produk dan memilih Bali sebagai tempat pemasaran di tahun 2001, saya mulai mencari bentuk dan motif motif baru. Beberapa desain sudah ada di pasaran, dan beberapa motif sudah dibuat oleh pengrajin dalam bentuk yang berbeda. Di tahun 2001, umumnya batik kayu hanya berupa topeng (dengan motif dan warna yg ramai), saat itu Asialine membuat inovasi baru dengan menyederhanakan motif motif yang ada, warna menjadi monokromatik, desain dibuat lebih geometrik, dan penerapan motif pada media lain yang lebih modern.

Pertama kali ketika saya membatik dalam bentuk bola, pengrajin saya tertawa, dan bilang “apa laku, pak?”. Lalu saya buat Tempat Lilin bentuk bola, Ganjal Pintu, lalu merambah juga sampai home ware. Mangkuk dan Piring. Pengrajin saya cuma geleng geleng kepala ketika menerima order ini,”ordernya mas, aneh aneh ya?, ngak buat topeng aja, mas?”. 🙂

Ternyata ide ini laris di pasaran. Bola batik saya masuk ke katalog ‘home shopping’ di German, order masuk melimpah ruah. Puji Tuhan. Pengrajin saya, kini percaya dengan ‘gagasan aneh’ saya.

Ketika tahun 2004, saya mulai jenuh dengan motif batik, saya membuat batik dengan motif garis, dan garis titik. Kembali, pengrajin saya tersenyum melihat desain saya. Saya ingat betul, saat itu saya memberi penjelasan desain garis ke pengrajin di temani seorang kawan dari malaysia. Teman saya pun geleng geleng kepala. “that’s not batik !” katanya. Tapi saya yakin hasilnya pasti bagus. Order pun datang. Desain ini kini masih menjadi unggulan. Setiap 2 bulan sekali, distributor kami dari Eropa order dalam jumlah yang lumayan banyak dan di Eropa dijual Euro 129 = Rp 1.4 jt !!! Padahal dari kami hanya Rp 50.000 saja.

Tidak semua desain batik yang saya keluarkan laris di pasaran. Umumnya saya mengeluarkan 6 desain tiap tahunnya, dan hanya 2-3 yang terseleksi oleh pasar. Jadi kalau kami kini memproduksi cukup banyak desain desain tersebut, itu melalui proses panjang. Buat, gagal, buat lagi, gagal lagi, buat lagi, tidak menyerah, dan berhasil di akhir kalimat.

Proses panjang itu yang membuat saya sakit hati ketika ada ‘buyer’ yang datang hanya untuk membeli sample di Asialine dan membuat langsung di Yogja. Tentunya mereka berharap bisa mendapatkan harga lebih murah daripada Asialine. Yang paling menyakitkan adalah buyer bernama “John & Sylvi” dari Amerika. Dengan arogannya, mereka datang ke outlet kami di Tegalalalang dengan nilai order sebesar Rp 200 juta.

Tentunya kami gembira mendapatkan order sebesar itu, tapi tunggu dulu. Dia datang dgn kata manis,”Kami melihat di pameran Jakarta, ada yang bisa buat batik spt kamu, harga nya lebih murah. Tapi karena kami sudah berbisnis dengan kamu, saya mau menjaga etika bisnis. Saya akan tetap order ke kamu, tapi bisa kan kasih diskon 10% lagi?”

Setelah saya pertimbangkan matang matang, ok deh saya kasih 10% lagi. Toh ini sudah desain lama. Ke esokan harinya dia datang lagi, dan kami memberi kabar gembira, “yes, kami bisa kasih anda 10% lagi”, saya pikir kita akan lamgsung tanda tangan kontrak hari ini dan menerima deposit. Tapi ternya dia bilang,”ogh..sorry, kami lihat di tempat lain ada juga yang buat lbh murah, tapi menjaga etika bisnis, bisa ya jadi 15% diskonnya?”

Saya marah dan kecewa sekali. Saya merasa dipermainkan, tidak dihargai sebagai desainer. Tentu saja harga saya sedikit lebih mahal dari pengrajin batik. Tapi apakah dia tidak menghargai ‘harga desain’, ‘harga product devolopment’, dan juga ‘etika buisnis’ yang dari kemarin disebut sebut. Dengan tegas saya katakan . TIDAK. Kemarin anda sudah minta saya turunkan 10%, sekarang anda berubah, minta 15%. mungkin besok akan minta 20% ? Buyer tersebut pun kaget kalau saya ngotot tidak mau turun harga lagi. Dia langsung pergi tanpa permisi. Menjaga Etika Bisnis. Gods ! Banyak sekali ‘buyer’ yang bicara soal Fair Trade, Code of Conduct, Etika Bisnis, dll , namun pelaksanannya O besar.

Biarlah order 200 jt hilang, dan saya tahu order itu lari ke pengrajin mana di Yogja. Saya cuma bisa menegur pengrajin tersebut, tanpa bisa berbuat apa apa. Saya belum mendaftarkan desain desain saya ke kantor HAKI ! Kini saya jadi bertanya, apakah suatu desain masih ada ‘harga’nya untuk produk masal seperti ini?

Saya tidak pernah berani menyalahkan pengrajin yang mengcopy desain saya, tapi saya sangat menyesalkan perbuatan ‘buyer’ seperti John & Sylvi yang hanya ingin mendapat $$$ lebih banyak dan mengacuhkan hak saya sebagai desainer. Semoga suatu hari, dia sadar, ada hak saya yang dia nikmati tanpa dia bayar.

Asia Line Batik motifs (1)

•Oktober 4, 2008 • 1 Komentar

Asia Line sudah memakai motif Batik sejak 1998, ketika memulai bisnis Photo Frame. Tentunya, Batik adalah seni yang sudah dikenal oleh seluruh masyrakat Indonesia. Batik Asialine adalah batik dengan desain yang sederhana, geometrik, naif namun tegas. Dimulai dengan mempopulerkan kembali 4 motif clasic batik. Parang Klitik (parang dgn motif kecil), kawung nangka (bentuk seperti bunga klafer, berbeda dengan batik kawung klasik yg besar besar), grompol dan truntum. Dua motif terakhir jarang didengar pada tahun 1998. Asialine memperkenalkan dan mencari arti dari motif motif tersebut. Banyak buku batik di pasaran, tapi sedikit yang menceritakan arti batik batik tersebut. Grompol adalah lambang kebahagiaan dalam perkawinan, dan Truntum adalah lambang kesetiaan dan cinta ratu pada sang raja.

Sejak Asialine (dulu masih bernama Portraits) berpameran di Plaza Senayan, dan mendapat publikasi di majalah LARAS, dan harian Kompas, motif tersebut kembali populer. Asialine yang memodifikasi desain Batik tersebut pun mendapat rejeki berupa order cukup banyak. Namun, seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Ketika motif ini laris, hampir setiap pengrajin batik kayu di Yogja memakai motif ini, walaupun hasilnya tidak sebaik karya pengrajin Asia Line. Hingga kini motif Classic ini masih menjadi best seller di Asia Line. Beberapa bulan lalu, saya cukup kaget melihat Warwick Purser juga menggunakan motif Grompol di salah satu desain box nya.

Saya mungkin tidak bisa mematenkan motif motif tersebut, tapi saya cukup bangga bisa mempopulerkan kembali motif motif tersebut.

Pertama di Blog

•Oktober 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Blog ini dibuat bukan untuk ikut ikutan, tapi cukup untuk menuangkan unek unek dan opini. Di sini akan ada desain desain Jeff Kristianto, latar belakang ide, kapan dibuat, dan bagaimana pemasarannya selama ini. Sering kali desainer tidak cukup punya banyak kesempatan untuk bercerita tentang desainnya.

Semoga bisa memberi sedikit pencerahan.